UPDATE NEWS

Senin, 21 November 2011

PERCOBAAN 3 Perbandingan Sifat Fisika dan Kimia Antara Senyawa Ion dan Kovalen



ABSTRAK

Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari sifat-sifat fisika dan kimia senyawa kovalen dan senyawa ion dan mempelajari bagaimana jenis ikatan dan struktur molekul mempengaruhi sifat fisika dan kimia senyawa. Senyawa ion dapat menghantarkan listrik dengan baik, sehingga kita dapat menggunakan dan menerapkannya dalam teknik kimia dan industri. Sedangkan senyawa kovalen memiliki sifat mudah terbakar, untuk itu kita harus berhati-hati terhadap senyawa yang mengandung senyawa kovalen.
Percobaan ini mencakup lima pengamatan, yaitu perbandingan titik leleh, wujud, perbandingan kelarutan, kemudahan terbakar, dan uji bau. Pengamatan untuk perbandingan titik leleh dilakukan dengan mengukur suhu saat meleleh dari contoh yang dipanaskan di atas spriritus, pengamatan wujud dilakukan dengan mengamati wujud dari contoh, perbandingan kelarutan dilakukan dengan melarutkan contoh dengan pelarut aquadest dan kloroform, kemudahan terbakar dilakukan dengan membakar contoh dengan api yang diletakkan di atas sudip, dan uji bau dilakukan dengan membaui contoh dengan mengibaskannya ke arah praktikan.
Dari percobaan diperoleh hasil bahwa perbedaan sifat fisika dan kimia dari senyawa kovalen adalah titik leleh rendah, berwujud gas atau cair pada suhu kamar, larut dalam pelarut non polar, umumnya terbakar, dan banyak yang berbau. Sedangkan perbedaan sifat fisika dan kimia dari senyawa ion adalah titik leleh tinggi, berwujud padatan pada suhu kamar, umumnya larut dalam pelarut polar, tidak terbakar, dan hanya sedikit yang berbau. Senyawa seperti urea, naftalen, aseton, dan etanol merupakan senyawa kovalen. Sedangkan KI, NaCl, asam oksalat, Na2CO3 dan MgSO4 merupakan senyawa ion. Hampir semua percobaan sesuai dengan teori, tapi ada juga yang tidak sesuai disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya seperti kurang ketelitian praktikan dalam mengamati.

Kata kunci : ikatan, ion, kovalen, atom, titik leleh, polar, non polar, van der walls, Lewis













PERCOBAAN 3
PERBANDINGAN SIFAT FISIKA DAN KIMIA
ANTARA SENYAWA ION DAN KOVALEN


3.1         PENDAHULUAN

3.3.3.1  Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari sifat fisika dan kimia senyawa kovalen dan senyawa ion serta mempelajari bagaimana jenis ikatan dan struktur molekul mempengaruhi sifat fisika dan kimia senyawa.

3.3.3.2  Latar Belakang
Kemajuan bidang industri, menuntut perubahan yang luar biasa. Kebutuhan akan produk-produk berbahan dasar kimia semakin merajalela. Karena itu sebagai mahasiswa teknik kimia dituntut agar bisa mengambil kesempatan ini agar bisa berkarya.
Salah satu industri yang menjadi contoh adalah industri petrokimia. Dimana untuk dapat memurnikan minyak maka diperlukan pengetahuan tentang ikatan kimia. Sehingga bisa mendapatkan bahan mentah yang lebih baik dan berkualitas tinggi.
Berdasarkan hal itu, maka praktikan dituntut memahami tentang ikatan kimia. Sehingga diharapkan praktikan mampu untuk memahami dan menjelaskan perbandingan sifat fisika dan kimia dari senyawa ion dan senyawa kovalen. Dan bisa dipraktekkan nantinya di dunia kerja.





3.2         DASAR TEORI

Ikatan kimia adalah ikatan yang terjadi antar atom atau antar molekul sebagai berikut:
1.        Atom yang satu melepaskan elektron, sedangkan atom yang lain menerima
elektron (serah terima elektron).
2.        Penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari masing-masing
atom yang berikatan.
3.        Penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah satu atom yang berikatan.
Tujuan dari pembentukan ikatan kimia adalah agar terjadi pencapaian kestabilan suatu unsur. Elektron yang berperan dalam pembentukan ikatan kimia adalah elektron valensi dari suatu atom atau unsur yang terlibat. Salah satu petunjuk dalam pembentukan ikatan kimia adalah adanya satu golongan unsur yang stabil yaitu golongan VIII A (gas mulia). Berdasarkan perubahan konfigurasi elektron yang terjadi pembentukan ikatan, ikatan kimia dapat dibedakan menjadi 2, yaitu ikatan ion dan ikatan kovalen.
1.        Ikatan Ion
- Terjadi jika atom unsur yang memiliki energi ionisasi kecil melepaskan elektron valensinya (membentuk kation) dan unsur yang memiliki afinitas elektron besar menerima elektron tersebut (membentuk anion).
- Kedua elektron tersebut kemudian saling berikatan dengan gaya elektrostatis (sesuai hukum Coulomb).
- Unsur yang cenderung melepaskan elektron adalah unsur logam sedangkan unsur yang cenderung menrima elektron adalah unsur nonlogam.
(Agus, 2008:1)
Ikatan ionik terbentuk melalui perpindahan satu atau lebih elektron valensi dari satu atom ke atom lain. Atom yang menyerahkan elektron menjadi bermuatan positif, yaitu kation. Atom yang menerima elektron menjadi bermuatan negatif, yaitu anion. Atom-atom yang cenderung menyerahkan elektronnya dinamakan elektropositif. Atom-atom yang cenderung menerima elektron disebut elektronegatif. Ikatan ionik pada dasarnya bukan benar-benar suatu ikatan. Karena berlawanan muatan, ion-ion tertarik satu dengan yang lain begitu juga halnya kutub-kutub magnet berlawanan. Dalam kristal ion-ion tersusun padat dengan cara tertentu, tetapi tidak bisa menyatakan bahwa ion tertentu ada hubungannya dengan ion yang lain dan tentu saja jika suatu zat terlarut, ion-ion bergerak dengan bebas. (Hart, 2000 : 4)
Ikatan ion adalah ikatan antara ion positif dan negatif, karena partikel yang muatannya berlawan tarik menarik. Ion positif dan negatif dapat terbentuk bila terjadi serah terima elektron antar atom. Atom yang melepaskan elektron akan menjadi ion positif, sebaliknya yang menerima akan menjadi ion negatif. Senyawa ion yang terbentuk dari ion positif dan negatif tersusun selang seling membentuk molekul raksasa dan akan mempunyai sifat tertentu. Sifat-sifat itu antara lain adalah kebanyakan menunjukkan titik leleh tinggi, pada umumnya senyawa ion larut dalam pelarut polar (seperti air dan amoniak). Senyawa ion berwujud padat tidak menghantarkan listrik, karena ion positif dan negatif terikat kuat satu sama lain. Akan tetapi cairan senyawa ion akan menghantarkan listrik karena ion-ion yang lepas dan bebas. Senyawa ion juga dapat menghantarkan listrik bila dilarutkan dalam pelarut polar misalnya air karena terionisasi. Karena kuatnya ikatan antara ion positif dan negatif, maka senyawa ion berupa padatan dan berbentuk kristal. Permukaan kristal itu tidak mudah digores atau digeser. Selain dari sifat-sifat yang disebutkan diatas, senyawa ion juga memiliki sifat hampir tidak terbakar (Syukri, 1999 : 58).
2. Ikatan Kovalen
- Terjadi karena pemakaian bersama pasangan elektron oleh 2 atom yang berikatan.
- Ikatan kovalen terjadi akibat ketidakmampuan pembentukan elektron yang dilepaskan salah satu atom
yang berikatan.
- Ikatan kovalen terbentuk karena atom yang memiliki afinitas elektron tinggi serta kelektronegatifannya lebih kecil dibandingkan ikatan ion.
(
Agus, 2008 : 1)
Ikatan kovalen adalah ikatan yang terjadi antara dua atom dengan pemakaian bersama sepasang elektron atau lebih. Ikatan kovalen dapat terjadi antara atom yang sama dengan atom yang berbeda. Sifat-sifat senyawa kovalen antara lain kebanyakan menunjukkan titik leleh rendah, pada suhu kamar berbentuk cairan atau gas, larut dalam pelarut non polar dan sedikit larut dalam air, sedikit menghantarkan listrik, mudah terbakar dan banyak yang berbau (Syukri, 1999 : 58).
Ikatan kovalen terbentuk melalui penggunaan bersama sepasang atau lebih elektron di antara atom-atom. Unsur-unsur yang bukan elektronegatif kuat atau elektropositif kuat cenderung membentuk ikatan melalui penggunaan bersama pasangan elektron bukan melalui pemindahan elektron. Jika dua atom identik atau mempunyai keelektronegatifan yang sama, pasangan elektron digunakan secara bersama (Hart, 2000 : 4).
Dalam pembentukkan ikatan ion maupun kovalen atau senyawa, atom mencapai keadaan yang sama yaitu konfigurasi elektron gas mulia yang mantap. Dalam ikatan ion, keadaan ini terjadi melalui pengalihan elektron. Dalam ikatan kovalen, dicapai dengan berpatungan elektron. Elektron yang secara nyata merupakan patungan antara dua atom yang dihitung dua kali (Antony dan Michael, 1992 : 73).
Jika jumlah ikatan antara molekul air dan sebuah ion meningkat, ikatan diantara ion dan ion-ion disebelahnya dalam struktur kristal melemah dan akhirnya ion yang terdehidrasi (misalnya karbon tetraklorida, heksana) kecuali senyawa kovalen yang mampu berikatan hidrogen dengan air. Senyawa organik yang mengandung oksigen atau nitrogen (seperti amina dan amida yang berbobot molekul rendah) dengan empat karbon atau kurang biasanya larut dalam air karena adanya ikatan hidrogen  (Bird,1987 : 187).
Senyawa polar memiliki ciri-ciri yaitu mudah larut dalam air dan pelarut polar lain, memiliki kutub (+) dan kutub (-) akibat tidak meratanya distribusi elektron serta memiliki pasangan elektron bebas atau memiliki perbedaan keelektronegatifan. Senyawa nonpolar, yaitu memiliki ciri-ciri yang tidak larut dalam air dan pelarut polar lain, tidak memiliki kutub (+) dan kutub (-) serta tidak memiliki pasangan elektron bebas atau kelektronegatifannya sama (Sakti, 2008:1).
Kekuatan ikatan antar partikel menyebabkan perbedaan titik leleh senyawa ion dan kovalen. Gaya tari Van der Walls yang ada di antara molekul dalam senyawa kovalen jauh lebih lemah dibandingkan dalam senyawa ion. Karena itu hanya sedikit energi (kalor lebih rendah) yang diperlukan oleh molekul dari senyawa kovalen untuk merusak keadaan padatnya yang teratur dan berubah menjadi keadaan cair yang acak. Dengan kata lain senyawa kovalen meleleh pada suhu yang lebih rendah dibanding senyawa ion. Polimer berbobot molekul tinggi (plastik, protein, pati dan lain-lain) yang banyak mengandung ikatan kovalen, tentunya memiliki titik didih amat tinggi, tetapi kebanyakan terurai menjadi molekul yang lebih kecil jauh sebelum titik didih tercapai (Agus, 2008 : 1).
Tabel 3.1 Perbandingan Sifat Fisika Senyawa Ion dan Kovalen
No.
Senyawa Kovalen
Senyawa Ion
1.
Kebanyakan menunjukan titik leleh rendah (<350° C).
Kebanyakan menunjukan titik leleh tinggi (>350° C, sering sampai 1000° C).
2.
Umumnya cairan atau gas pada suhu kamar.
Semuanya padatan pada suhu kamar.
3.
Umumnya larut dalam pelarut non polar, sedikit larut dalam air.
Umumnya larut dalam air dan beberapa larut dalam pelarut non polar.
4.
Sedikit yang menghantarkan listrik.
Umumnya menghantarkan listrik.
5.
Umumnya terbakar
Hampir tidak terbakar.
6.
Banyak yang berbau
Sedikit yang berbau.
(Tim Dosen FMIPA UNJ, 2009 : 32).
Senyawa ionik dan senyawa kovalen polar cenderung larut dalam pelarut polar sedangkan senyawa kovalen nonpolar cenderung larut dalam pelarut nonpolar. Contoh dari senyawa kovalen polar adalah HCl, NH3, dan CH3COOH sedangkan contoh dari senyawa ionik adalah senyawa basa dan garam seperti NaOH, NaCl, Na2CO3 dan basa atau garam lainnya (Wanibesak, 2010 : 1).
Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3). Kloroform dikenal karena sering digunakan sebagai bahan pembius, meskipun kebanyakan digunakan sebagai pelarut nonpolar di laboratorium atau industri. Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan, namun mudah menguap. (Wikipedia, 2011 : 1).



























3.3         METODOLOGI PERCOBAAN

3.3.1   Alat
Alat-alat yang digunakan adalah


-          Tabung reaksi
-          Rak tabung reaksi
-          Termometer
-          Pipet Tetes
-          Spatula
-          Gelas beker 250 ml
-          Gegep
-          Bunsen
-          Spatula
-          Korek api



3.3.2   Bahan
Bahan-bahan yang digunakan adalah


-          Etanol
-          Aseton
-          MgSO4
-          KI
-          Naftalen
-          Urea
-          Asam Oksalat (H2C2O11)
-          NaCl
-          Na2CO3
-          Aquadest
-          Kloroform




3.3.3   Prosedur Kerja



3.3.3.1           Perbandingan Titik Leleh



3.3.3.1.1     Senyawa Kovalen

1.        Memasukkan sejumlah urea ke dalam tabung reaksi, memasukkan termometer di dalamnya.

2.        Memanaskan tabung reaksi di atas nyala api spiritus. Mencatat suhu tepat pada saat contoh urea mulai meleleh dan suhu saat seluruh contoh urea telah meleleh, ini merupakan kisaran titik leleh.

3.        Mengulangi untuk naftalen.

4.        Mencatat kisaran titik leleh untuk tiap senyawa, mengulangi pengamatan masing-masing senyawa dua kali lagi.

5.        Mencari data titik leleh dari buku acuan, dan membandingkan dengan hasil pengamatan.



3.3.3.1.2     Senyawa Ion

Tidak melakukan percobaan, karena titik leleh senyawa ion sangat tinggi.



3.3.3.2           Wujud

Mengamati wujud bahan-bahan senyawa Na2CO3, KI, NaCl, MgSO4, urea, naftalen, asam oksalat, aseton, dan etanol.



3.3.3.3           Perbandingan Kelarutan

1.        Memasukkan urea ke dalam tabung reaksi I, menambahkan air, mengaduk, dan mengamati. Memasukkan pula urea ke dalam tabung reaksi II, menambahkan N-hexane, mengaduk dan mengamati.

2.        Mengulangi untuk contoh KI, naftalen, NaCl, urea, MgSO4, aseton.

3.        Mengamati adakah senyawa kovalen yang larut dalam air.



3.3.3.4           Kemudahan Terbakar

1.        Meletakkan beberapa tetes etanol pada spatula, kemudian membakar dengan api, mengamati apakah etanol dapat terbakar.

2.        Mengulangi langkah yang sama untuk bahan-bahan senyawa Na2CO3, KI, NaCl, MgSO4, urea, naftalen, asam oksalat, aseton, dan etanol.



3.3.3.5           Uji Bau

Mengidentifikasi bau Na2CO3, KI, NaCl, MgSO4, urea, naftalen, asam oksalat, aseton, dan etanol.







3.4         HASIL DAN PEMBAHASAN



3.4.1   Hasil

Tabel 3.2 Hasil Perbandingan Titik Leleh dan Titik Didih

No.
Langkah Percobaan
Hasil Pengamatan
1.
Memasukan sejumlah urea ke dalam tabung reaksi
Wujud kristal
2.
Memasukkan termometer ke dalamnya

3.
Memanaskan tabung reaksi di atas bunsen yang menyala hingga meleleh.
T1= 63° C
T2= 72° C
Wujud menjadi cair
4.
Mengulangi untuk naftalen
T1= 55° C
T2= 85° C
Wujud kristal menjadi cair
5.
Mengulangi untuk aseton
T1= 35° C
T2= 40° C
Wujud cair
6.
Mengulangi untuk etanol
T1= 47° C
T2= 62° C
Wujud cair



Tabel 3.3 Hasil Perbandingan Wujud

No.
Langkah Percobaan
Hasil Pengamatan
1.
Mengamati MgSO4
Kristal putih, kasar
2.
Mengamati NaCl
Kristal putih, kasar
3.
Mengamati KI
Kristal putih, kasar
4.
Mengamati Na2CO3
Serbuk putih, halus
5.
Mengamati naftalen
Kristal putih, kasar
6.
Mengamati urea
Kristal putih, kasar
7.
Mengamati asam oksalat
Kristal putih, kasar
8.
Mengamati aseton
Cairan bening
9.
Mengamati etanol
Cairan bening



Tabel 3.4 Hasil Perbandingan Kelarutan (Polar)

No.
Langkah Percobaan
Hasil Pengamatan
1.
Mencampur aquadest dengan NaCl pada tabung reaksi
Larut
2.
Mengulangi langkah yang sama untuk KI
Larut
3.
Mengulangi langkah yang sama untuk Na2CO3
Larut
4.
Mengulangi langkah yang sama untuk MgSO4
Larut
5.
Mengulangi langkah yang sama untuk urea
Larut
6.
Mengulangi langkah yang sama untuk asam oksalat
Larut
7.
Mengulangi langkah yang sama untuk naftalen
Tidak larut
8.
Mengulangi langkah yang sama untuk aseton
Tidak bercampur
9.
Mengulangi langkah yang sama untuk etanol
Tidak bercampur



Tabel 3.5 Hasil Perbandingan Kelarutan (Non Polar)

No.
Langkah Percobaan
Hasil Pengamatan
1.
Mencampur kloroform dengan NaCl pada tabung reaksi
Tidak larut
2.
Mengulangi langkah yang sama untuk KI
Tidak larut
3.
Mengulangi langkah yang sama untuk Na2CO3
Tidak larut
4.
Mengulangi langkah yang sama untuk MgSO4
Tidak larut
5.
Mengulangi langkah yang sama untuk urea
Tidak larut
6.
Mengulangi langkah yang sama untuk asam oksalat
Tidak larut
7.
Mengulangi langkah yang sama untuk naftalen
Larut
8.
Mengulangi langkah yang sama untuk aseton
Bercampur
9.
Mengulangi langkah yang sama untuk etanol
Bercampur



Tabel 3.6 Hasil Perbandingan Kemudahan Terbakar

No.
Langkah Percobaan
Hasil Pengamatan
1.
Meletakkan beberapa tetes etanol pada spatula, membakar dengan api bunsen
Mudah terbakar
2.
Mengulangi langkah yang sama untuk KI
Tidak terbakar
3.
Mengulangi langkah yang sama untuk Na2CO3
Tidak terbakar
4.
Mengulangi langkah yang sama untuk MgSO4
Tidak terbakar
5.
Mengulangi langkah yang sama untuk urea
Tidak terbakar
6.
Mengulangi langkah yang sama untuk asam oksalat
Tidak terbakar
7.
Mengulangi langkah yang sama untuk naftalen
Mudah terbakar
8.
Mengulangi langkah yang sama untuk aseton
Mudah terbakar
9.
Mengulangi langkah yang sama untuk NaCl
Tidak terbakar



Tabel 3.7 Hasil Identifikasi Bau

No.
Langkah Percobaan
Hasil Pengamatan
1.
Mengidentifikasi bau naftalen
Berbau seperti kapur barus
2.
Mengidentifikasi bau aseton
Berbau seperti lem
3.
Mengidentifikasi bau etanol
Berbau seperti alkohol
4.
Mengidentifikasi bau MgSO4
Tidak berbau
5.
Mengidentifikasi bau KI
Berbau tidak tajam
6.
Mengidentifikasi bau urea
Berbau tidak tajam
7.
Mengidentifikasi bau asam oksalat
Tidak berbau
8.
Mengidentifikasi bau NaCl
Tidak berbau
9.
Mengidentifikasi bau Na2CO3
Tidak berbau





3.4.2   Pembahasan

3.4.2.1  Perbandingan Titik Leleh

Senyawa ion pada suhu kamar sebagian besar berbentuk padat keras, tetapi mudah patah dengan titik didih dan titik leleh relatif tinggi sekitar >350°C-1000°C. Sedangkan senyawa kovalen pada suhu kamar dapat berupa padat, cair atau gas dengan titik didih dan leleh rendah sekitar <350°C. Senyawa kovalen memiliki titik leleh rendah karena ikatan kovalen memiliki ikatan antar atom yang lemah daripada ikatan ion, sehingga hanya perlu sedikit energi untuk merusak keadaan padatnya yang teratur menjadi keadaan yang acak.

Pada percobaan ini, digunakan senyawa kovalen seperti urea dan naftalen untuk penentuan titik leleh sedangkan etanol dan aseton untuk penentuan titik didih. Berdasarkan pengamatan didapatkan hasil titik leleh untuk urea adalah 72°C dan untuk naftalen adalah 85°C. Tapi, berdasarkan data teoritisnya, titik leleh urea dan naftalen adalah 132,7°C dan 80°C. Sedangkan hasil pengamatan titik didih didapat hasil untuk etanol adalah 62°C sedangkan aseton adalah 40°C. Tapi, berdasarkan data teoritisnya, titik didih etanol dan aseton adalah 79°C dan 56,53°C. Perbedaan antara hasil pengamatan dengan data teoritis kemungkinan disebabkan faktor teknis dan non teknis. Faktor teknis bisa disebabkan oleh kesalahan manusia. Seperti kesalahan dalam pembacaan alat laboratorium atau kesalahan penggunaan alat yang menyebabkan hasil teoritis tidak sama dengan hasil percobaan. Sedangkan faktor non teknis seperti faktor lingkungan yang berbeda. Faktor lingkungan yang dimaksud bisa berupa tekanan udara, suhu, dan iklim. Selain itu, faktor kebersihan alat praktikum juga mempengaruhi hasil percobaan.

Dari perbandingan titik leleh dapat disimpulkan bahwa senyawa kovalen memiliki titik leleh lebih rendah daripada senyawa ion yang memiliki data teoritis untuk titik leleh <350°C-1000°C. Ini disebabkan adanya gaya tarik Van der Walls yang ada di antara molekul dalam senyawa kovalen jauh lebih rendah dibandingkan senyawa ion. Karena itu hanya sedikit energi yang diperlukan oleh molekul dari senyawa kovalen untuk merusak keadaan padatnya yang teratur dan berubah menjadi keadaan cair yang lebih acak.

Untuk senyawa ion, menentukan titik lelehnya sangat sulit dan tidak mungkin dilakukan pada percobaan ini. Karena senyawa ion memiliki ikatan antara ion-ion dengan gaya elektrostatis sangat kuat dengan suatu susunan kristal yang tertentu dan teratur. Oleh karena itu praktikan hanya bisa membandingkan lewat data teoritis. Berikut adalah data beberapa titik leleh senyawa ion:

Tabel 3.8 Titik Leleh Senyawa Ion

No.
Senyawa Ion
Titik Leleh
1.
NaCl
800°C
2.
KI
681°C
3.
MgSO4
1124°C
4.
Na2CO3
170°C

(Annisa, 2008 : 1)



3.4.2.2  Wujud

Pada pengamatan wujud, wujud antara senyawa ion dan kovalen berbeda. Salah satu perbedaan antara senyawa ion dan kovalen yaitu pada suhu kamar, senyawa ion berupa padatan. Sedangkan senyawa kovalen umumnya berbentuk cair atau gas. Adanya yang berwujud cairan pada senyawa kovalen, karena dalam temperatur kamar, ikatan ionik pada senyawa kovalen lebih lemah daripada senyawa ion yang berwujud padat karena setiap ion di kelilingi ion-ion yang muatannya berlawanan yang membentuk suatu susunan seperti kristal yang mengakibatkan ikatan ionik kuat.

Berdasarkan hasil pengamatan, etanol dan aseton memiliki wujud cair dan bening. Sedangkan senyawa kovalen lain berwujud padat dan berwarna putih. Untuk pengamatan pada senyawa ion seperti MgSO4, asam oksalat, NaCl, KI, dan Na2CO3 berwujud padatan.

Perbedaan wujud senyawa kovalen dan ion disebabkan ikatan-ikatan kovalen pada senyawa kovalen yang relatif lemah dan daya tarik menarik antar molekulnya kecil, sehingga membentuk senyawa dengan kerapatan molekul yang kecil. Sedangkan senyawa ion umumnya berwujud padatan, karena ikatan antar ion yang terbentuk sangat kuat dan daya tarik molekulnya besar. Dengan begitu menyebabkan kerapatan antar molekul pada senyawa ion lebih besar sehingga mengakibatkan wujud yang terbentuk pada senyawa ion terbentuk padat pada suhu kamar. 



3.4.2.3  Perbandingan Kelarutan

Pada percobaan ini menggunakan air sebagai pelarut polar dan kloroform sebagai pelarut non polar. Pelarut polar adalah pelarut yang molekulnya terbentuk dari senyawa yang keelektronegatifannya tinggi. Sedangkan pelarut non polar adalah pelarut yang molekulnya terbentuk dari senyawa yang tidak memiliki perbedaan keelektronegatifan.

Untuk senyawa ion seperti MgSO4, KI, asam oksalat, Na2CO3, dan NaCl larut dalam pelarut polar. Ini disebabkan senyawa ion memiliki dipol-dipol yang tidak saling meniadakan dan pelarutnya polar memiliki perbedaan keelektronegatifan. Selain itu senyawa ion dapat larut dalam pelarut polar yaitu air, karena molekul air polar, berarti memiliki muatan, yaitu kutub positif dan negatif. Karena senyawa ion terdiri atas kation (ion positif) dan anion (ion negatif). Maka akibat keduannya memiliki muatan, menyebabkan gaya yang saling tarik menarik antar keduannya hingga menyebabkan keduanya bercampur menjadi homogen. Dimana kutub positif molekul air menarik ion negatif senyawa ion dan kutub negatif menarik ion positif senyawa ion.

Untuk senyawa kovalen seperti naftalen, urea, aseton dan etanol, cuma urea yang tidak menyatu dalam pelarut non polar. Sebaliknya malah larut dalam pelarut polar seperti senyawa ion. Ini disebabkan karena urea dapat mengikat hidrogen positif dalam air. Sehingga menyebabkan urea larut dalam air. Sedangkan untuk naftalen, aseton dan etanol yang larut dalam pelarut non polar. Ini disebabkan PEI(pasangan elektron ikatan) pada ikatan kovalen tertarik sama kuat ke arah atom-atom yang berikatan. Sehingga terbentuk atom-atom unsur mempunyai beda keelektronegatifan nol atau mempunyai momen dipol = 0 (nol) atau mempunyai bentuk molekul simetri.



3.4.2.4  Kemudahan Terbakar

Senyawa kovalen merupakan senyawa yang sangat mudah terbakar seperti aseton, etanol dan naftalen. Ini disebabkan senyawa kovalen pada umumnya merupakan senyawa organik yang banyak mengandung karbon dan hidrogen hingga menyebabkan mudah bereaksi dengan oksigen membentuk H2O dan CO2 pada saat pembakaran. Namun pada urea yang merupakan senyawa kovalen malah tidak terbakar. Ini disebabkan karena terdapat gaya tarik menarik antara ion positif dan ion negatif begitu kuat sehingga tidak mudah terbakar.

Sedangkan senyawa ion tidak dapat dibakar seperti pada MgSO4, KI, asam oksalat, NaCl dan Na2CO3. Ini disebabkan karena ikatannya terbentuk dari atom-atom yang memiliki suatu keelektronegatifan yang rendah. Sehingga menyebabkan gaya tarik-menarik antara ion positif dan ion negatif pada senyawa ion begitu kuat hingga tidak mudah terbakar.

Adapun reaksi pembakaran berdasarkan percobaan:

a.         Pembakaran etanol

C2H5OH(l) + 3O2(g)                       2CO2(g) + 3H2O(l)

b.        Pembakaran aseton

C3H6O(l) + 4O2(g)                                   3CO2(g) + 3H2O(l)

c.         Pembakaran Naftalen

C10H8(s) + 12O2(g)                                   10CO2(g) + 4H2O(l)

d.        Pembakaran urea

(NH2)2CO(s) + O2(g)                       Tidak bereaksi

e.         Pembakaran KI

KI(s) + O2(g)                                               Tidak bereaksi

f.         Pembakaran MgSO4

Mg2SO4(s) + O2(g)                                   Tidak bereaksi

g.        Pembakaran NaCl

NaCl(s) + O2(g)                                         Tidak bereaksi

h.        Pembakaran Na2CO3

Na2CO3(s) + O2(g)                                   Tidak bereaksi

i.          Pembakaran asam oksalat

H2C2O4(s) + O2                                        Tidak bereaksi



3.4.2.5  Uji Bau

Berdasarkan pengamatan, senyawa kovalen seperti urea, naftalen dan etanol berbau khas dan mudah dikenali. Seperti etanol berbau alkohol, aseton berbau seperti lem, dan naftalen berbau kapur barus. Cuma urea yang baunya kurang tajam sehingga sulit untuk dikenali. Tapi, berdasarkan percobaan dapat disimpulkan senyawa kovalen sebagian besar mempunyai bau. Ini disebabkan karena senyawa kovalen berbentuk dari atom-atom non logam yang pada umumnya berbau, karena ada elektron bebas pendekatan dengan ikatan valensi dan orbital molekulnya yang jika diberi tekanan, maka sebaris/selapis atom dapat bergeser kedudukan. Kemudian berikatan dengan atom lain. Akibatnya ada bau yang dihasilkan logam, sehingga apabila keduannya berikatan maka senyawa yang terjadi juga akan berbau.

Sedangkan senyawa ion seperti MgSO4, NaCl, asam oksalat, dan Na2CO3 tidak berbau. Hanya KI yang memiliki bau dan itupun tidak tajam sehingga sulit dikenali. Tapi, berdasarkan percobaan dapat disimpulkan senyawa ion sebagian besar tidak berbau. Ini disebabkan karena senyawa ion sebagian besar tidak berbau. Ini disebabkan karena senyawa ion terbentuk dari atom logam dan non logam, sehingga apabila berikatan dapat menghasilkan senyawa tidak berbau dan berbau. Walaupun dominan senyawa ion tidak berbau karena kebanyakan atom pembentuknya lebih banyak non logam daripada logam.

Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea juga dikenal dengan nama carbamide yang terutama digunakan di kawasan Eropa. Nama lain yang juga sering dipakai adalah carbamide resin, isourea, carbonyl diamide dan carbonyldiamine. Senyawa ini adalah senyawa organik sintesis pertama yang berhasil dibuat dari senyawa anorganik.
Naftalena mempunyai senyawa aromatis yang mengeluarkan bau. Struktur utama dari senyawa aromatis adalah membentuk cincin benzena. Cincin benzena biasanya digambarkan dengan segienam beraturan yang tiap sudutnya merupakan atom C dengan mengikat H dan ikatan rangkap berselang-seling antara dua atom C.
Pada etanol dan aseton berbau tajam karena senyawa kovalen merupakan senyawa organik yang mengandung atom karbon C yang mudah terurai oleh udara. Sehingga menyebabkan bau pada ikatan kovalen lebih tajam. Berbeda dengan senyawa ion yang pada ikatannya jarang terdapat karbon C sehingga sebagian besar ion tidak tercium baunya. 




3.5         PENUTUP



3.5.1   Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum ini adalah:

1.    Perbedaan sifat fisika dan kimia pada senyawa ion dan senyawa kovalen dipengaruhi oleh jenis ikatannya dan struktur molekulnya.

2.    Senyawa kovalen meliputi etanol, aseton, naftalen, dan urea. Sedangkan senyawa ion meliputi MgSO4, KI, asam oksalat, NaCl, dan Na2CO3.

3.    Ikatan kovalen memiliki titik leleh lebih rendah jika dibandingkan dengan ikatan ion.

4.    Sebagian besar senyawa kovalen berwujud cair atau gas, sedangkan senyawa ion berbentuk padatan.

5.    Pada senyawa kovalen, umumnya larut dalam pelarut non polar. Sedangkan senyawa ion seluruhnya tidak dapat terbakar.

6.    Pada umumnya senyawa kovalen sebagian besar mudah terbakar, sedangkan senyawa ion seluruhnya tidak dapat terbakar.

7.    Kebanyakan pada ikatan kovalen memiliki bau yang sangat tajam, sedangkan ikatan ion kebanyakan tidak memiliki bau.



3.5.2   Saran

Saran untuk percobaan ini adalah praktikan harus teliti dalam melihat hasil pengamatan. Seperti dalam mengamati termometer. Agar hasil yang didapat tidak terlalu jauh dari data teoritisnya.

















DAFTAR PUSTAKA



Agus, 2008. Ikatan Kimia dan Definisi ikatan.


diakses pada tanggal 13-10-2011



Annisa, 2008. Perbandingan Sifat Senyawa Ion dan Kovalen.


diakses pada tanggal 13-10-2011



Bird, Tony.1987. Penuntun Praktikum Kimia Fisika untuk Universitas. Gramedia : Jakarta.     



Hart. 2000. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Jakarta : Erlangga



Sakti, 2008. Perbedaan Senyawa Polar dan Non.


diakses pada tanggal 13-10-2011



Syukri, S. 1999.  Kimia Dasar Jilid 1.  ITB : Bandung.



Tim Dosen FMIPA Kimia UNJ. 2010. Penuntun Praktikum. UNJ : Jakarta.



Wanibesak, Emser. 2010. Perbedaan Senyawa Ionik dan Kovalen.


diakses pada tanggal 12-10-2011



Wikipedia. 2011. Kloroform.


diakses pada tanggal 22-10-2011



Wilbraham, Anthony C dan Matta,  Michael S. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati.  ITB : Bandung.






NB: File diatas ada beberapa yang dihilangkan seperti gambar, karena tidak bisa copy paste langsung. Namun bagi kawan-kawan yang ingin mendownload filenya bisa mendownload file yang aslinya dengan gambar. Silakan download disini 

Percobaan 3 Kimia Dasar
Laporan ini telah direvisi 1 kali.
Semoga membantu. . .

1 komentar:

ANDA SUKA DENGAN ISI ARTIKEL BLOG SAYA?? JANGAN LUPA UNTUK DI KOMEN, LIKE DAN FOLLOW YA. DAN INGAT, HARUS SOPAN. . .
HARAP MENULIS NAMA BILA KOMEN, AGAR KITA LEBIH SALING MENGENAL. SALAM BLOGGING. . .

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...